Cerita Warga ON Tentang Culture Shock di Jepang

Oleh : Eliza Farestiani

Minna-san.. Konnichiwa!

Sudah berapa lama tinggal di Jepang? Apakah masih ingat bagaimana temen-teman ketika pertama kali mendarat di Jepang? Tentunya sangat bervariasi, ya, pengalamannya. Di kesempatan ini, beberapa warga ON akan berbagi “hah?” moment yang mereka temui.

  1. Jepang sepi?

YES! Kalau di Indonesia tengah malam pun masih bisa cari makan. Sangat anak kost friendly ya. Di Jepang, jam 8 udah sepi karena banyak restoran yang tutup. Sedihnya lagi, di Jepang tidak ada tuh pedagang kaki lima seperti gerobak nasi goreng, mie goreng, sate, atau martabak. Dan juga, dari awal tiba di jepang sampai sekarang, tidak ada pemandangan ibu-ibu atau bapak-bapak kompleks ngumpul di depan rumah sambal ngopi.

A street light on a sidewalk

Description automatically generated

(suasana lingkungan apartement jam 7 malam)

  1. Sepeda dan jalan kaki

Berbeda dengan suasana di Indonesia dimana kebanyakan orang-orang berpergian dengan mobil atau motor, warga Jepang lebih suka menggunakan sepeda atau jalan kaki. Hal ini memang didukung dengan jalanan Jepang yang sangat nyaman, bahkan disediakan juga jalur sepeda dan disabilitas. 

  1. Pemilihan sampah sangat detail

Sangat amazed dengan pertauran Jepang dalam mengolah sampah. Kita tidak bisa membuang semua jenis sampah ke dalam satu tempat. Benar-benar harus diperhatikan apakah sampahnya burnable, unburnable, PET bottle, kaleng, gelas, kardus, atau logam. Plastik untuk setiap jenis sampah pun berbeda. Tidak hanya itu, kita tidak bisa membuang sampah setiap hari. Pemerintahan kota sudah mengatur hari buang sampah tergantung jenisnya. Misalnya, burnable akan dikoleksi di hari selasa dan jumat setiap minggunya, sementara PET bottle dan unburnable hanya boleh dibuang di hari Kamis minggu kedua dan keempat setiap bulannya. Menurut kalian ribet atau luar biasa? 

A plastic bag with a hole in it

Description automatically generated

(contoh plastik untuk sampah burnable dan unburnable)

  1. Melakukan semua hal dengan cepat

Contohnya jalan kaki. Rata-rata orang jepang berjalan lebih cepat dengan tujuan lebih cepat sampai tujuan, dan lebih banyak hal yang bisa dilakukan.

  1. Pakaian kuliah

Di Indonesia, sebagian besar sekolah memiliki peraturan tertentu terkait pakaian, seperti harus memakai kemeja, rok/celana Panjang. Adalah hal normal di jepang hanya memakai kaos oblong, celana pendek, dan sendal. Bahkan Ketika presentasi di depan sensei sekalipun. Jadi kesimpulannya ‘it doesn’t matter on how you dress’, yang penting adalah bagaimana kita melakukan kewajiban dengan baik.

  1. Bahasa

Hal lain yang membuat warga ON kaget adalah bahasa. Dengan status negara maju, ekspektasi di awal akan terbantu dengan keterangan atau petunjuk dalam Bahasa Inggris. Namun, ternyata kebanyakan masih dalam Bahasa Jepang. Selain itu, kebanyakan masyarakat local juga tidak mengerti Bahasa Inggris. Selalu sedia Google Lens hehe.

  1. Ritme sekolah

Banyak dari kita mungkin sudah terbiasa dengan tawar-menawar deadline. Di jepang, mostly jadwal sudah fixed hingga satu semester ke depan. Misalnya di lab saya, jadwal journal seminar, research seminar, progress report, team meeting, bahkan lab trip sudah diatur oleh PICnya. Jadi setiap mahasiwa sudah tahu kapan mereka harus presentasi tanpa harus disibukkan dengan surat menyurat meminjam ruangan seminar, mengurus administrasi seminar, serta mengkonfirmasi jadwal dosen pembimbing dan dosen penguji seperti yang saya temui di kampus saya di Indonesia. Mahasiswa hanya perlu focus dengan riset dan mempersiapkan presentasi. Di satu sisi, system belajar seperti ini mungkin dapat memberikan tekanan, namun tentunya tetap dalam ritme yang stabil. Di sisi lain, ini sangat membantu kita untuk keep on tract.

A screenshot of a spreadsheet

Description automatically generated

(contoh jadwal journal seminar)

  1. No nongkrong dadakan!

Mau ngajak anak-anak Jepang nongkrong habis core time lab? Ohh tidak bisa.. pengalaman warga ON, untuk bisa jalan-jalan, ngopi, atau makan-makan sepulang ngelab atau kuliah, kita harus buat janji dulu dari jauh-jauh hari, bahkan ada yang satu bulan sebelumnya. Sangat berbeda ya Ketika di Indonesia, siang ngajak, pulang langsung cuss hehe. Tapi, ini bukan tanpa alasan. Kebanyakan mahasiswa Jepang kuliah sambil bekerja (baito), dan biasanya sepulangnya mereka dari kampus, mereka langsung ke tempat kerja. Banyak juga yang bekerja di akhir pekan. Jadi kalau mau ngajak mereka nongkrong, jangan dadakan yaa hehe.

  1. Vending machine

Kemanapun kita pergi, disitu lah ada vending machine hahaha. Bahkan ada yang bilang ‘kamu bisa hidup dengan vending machine’. Kasarnya begitu. Tidak hanya berbicara tentang kuantitas, namun vending machine di Jepang juga sangat unik-unik seperti machine es krim dan snacks.

A vending machine with different flavors of ice cream

Description automatically generated

(vending machine es krim)

  1. Inovasi “smart toilet”

Dari saya pribadi, toilet menjadi bagian culture shock yang paling membuat shock hahaha. Bagaimana tidak, di Indonesia kita biasanya bersih-bersih menggunakan keran air. Di Jepang kita hanya akan menemui tisu (hah!?). Eits, tapi jangan khawatir! Sangat berterimakasih dengan kemajuan teknologi di sini termasuk high-tech toilet. Kita akan menemui berbagai macam tombol dengan fungsinya masing mulai dari tombol semprot beserta dengan level tekanan airnya, efek suara beserta dengan volumenya, tombol suhu, pengering, dan masih banyak lagi. Jadi, no keran air, no problem! Toilet Jepang, keren!

A close-up of a toilet

Description automatically generated
A close-up of a toilet

Description automatically generated

(Sumber: www.tsunagujapan.com)

  1. No titip absen

Kuliah di Jepang, kehadiran bernilai 50% dari total nilai. Karena sangat penting, sensei di Jepang juga cukup strict dengan kehadiran. Mahasiswa tidak boleh curang dengan menitip absen melalui teman. Beberapa sensei hanya mengecek kehadiran dengan memanggil nama satu per satu, namun ada juga sensei yang menggunakan barcode untuk mengetahui kehadiran setiap mahasiswa.

(sekali lagi terimakasih kepada Mbak Mercy, Mbak Enik, Aulia, Kak Pipit, dan Mbak Intan sudah berbagi pengalaman culture shocknya)

7 Comments

  1. Can I buy Viagra Connect online? Many males will experience unwanted effects when taking Viagra, however a couple of ideas
    can be certain that this medication is taken safely.
    For that reason, Viagra is used with caution in males older than the age of 50.
    Men with circulatory or coronary heart problems might must weigh the benefits
    and risks of sexual activity with a healthcare provider before taking Viagra.

    Besides uncomfortable side effects, Viagra may cause problems in individuals
    with pre-current situations. Viagra unintended effects | Serious negative effects | Blood pressure
    | Vision loss | How long do side effects final?
    Both Viagra and alcohol lower blood pressure, so the combination might trigger negative effects
    equivalent to dizziness and fainting. To reduce negative
    effects, the place to begin is by getting a prescription from a licensed
    healthcare provider who performs an in-individual bodily examination and
    a complete medical historical past. Call a poison helpline or seek
    emergency medical attention if an overdose is suspected.
    Nearly all cases were resulting from non-arteritic anterior ischemic optic neuropathy or NAION, a
    medical situation wherein the flow of blood to the optic nerve is stopped.

  2. 2. Trimming your pubic hair: Trimming your pubic
    hair won’t make your penis grow, but it can significantly increase its visual weight.
    Your surgeon may recommend you lose weight or try liposuction before considering more invasive surgery options.
    You might get tempted to try this just to see if it works; however, this is a
    great way to get sucked in. During the first few weeks after
    the operation, it is possible that men might feel
    some pain when they get an erection. It is important to keep this movement to a minimum
    for the first few weeks if you want to get good results.
    The results are only temporary. While some of the ingredients found in penis
    enlargement pills have been known for hundreds of years, others are new to the market.
    Additionally, while stem cells have shown potential in various regenerative treatments, their ability
    to increase size before and after the procedure is still being researched and may not
    yield significant results. While buying products online is easy
    and convenient, the process of finding the right penis enlargement
    oil will be an extensive task if you do not
    have any idea what would suit your needs best.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *